Mengenal Kata Cukup Sebelum Kehilangan Diri Sendiri
Dalam sebuah hubungan, ada satu momen dimana rasanya waktu berhenti sejenak hanya untuk menunjukkan sesuatu. Seperti sebuah kaca yang tiba-tiba pecah, dan seperti kabut yang tiba-tiba hilang begitu saja. Pada akhirnya kita tiba pada satu fase yang penuh kesadaran tapi juga penuh tanda tanya. Sayangnya, ini bukan tentang orang lain, tapi tentang diri sendiri. Seberapa jauh hubungan itu membuat kita kehilangan diri sendiri?
Selama ini kita selalu diajarkan bagaimana cara menyayangi orang lain dengan usaha yang penuh. Kata mereka melakukan sesuatu untuk orang lain merupakan salah satu bentuk dari bahasa kasih sayang. Tapi bagaimana jika semua itu pada akhirnya membuat kita “kering” di dalam? Mungkin bukan rasa sayangnya yang salah, tapi pasti ada bagian lain yang belum tuntas kita pelajari.
Terkadang kita terlalu banyak mempertimbangkan orang lain sampai lupa jika kita juga punya hak yang sama. Jika kita mampu menyayangi dengan cara yang all in kepada orang lain, lantas mengapa kita tidak memberlakukan hal yang serupa kepada diri sendiri? “Kering” yang kita rasakan tidak sepenuhnya menjadi kesalahan orang lain. Bisa jadi kita yang lupa cara menyayangi diri sendiri ketika sedang menyayangi orang lain.
Ketika
rasa “kering” itu melanda, bukan waktunya kita untuk menuntut kepada
orang lain. Tapi coba untuk duduk dalam keheningan sejenak. Mungkin itu menjadi
pertanda bahwa kita harus mendengarkan suara di dalam diri yang berkata cukup. Kembali
kepada diri sendiri untuk memeluk dan menjaganya sebagaimana kita melakukan itu
untuk orang lain. Karena pada dasarnya, kita tidak harus kehilangan diri
sendiri ketika menyayangi orang lain.

Komentar
Posting Komentar