Pada Akhirnya, Aku Mengerti Mengapa Kamu Pergi Lebih Dulu
Belakangan hari-hari terasa jauh lebih berat dijalani dari biasanya. Hidup ditengah hiruk-pikuk sosial dan aku masih bisa berfungsi dengan baik. Bahkan sangat baik. Tapi siapa yang tahu apa yang terjadi dibalik pintu kamar itu. Aku duduk di tepi tempat tidur, termenung mengharapkan satu sosok untuk hadir disana. Sayangnya, aku sadar bahwa itu tidak mungkin bisa terjadi sekalipun aku mengemis pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Aku selalu berdiri kokoh layaknya benteng yang disiapkan untuk tahan dalam setiap cuaca. Seperti seorang prajurit yang dibentuk untuk tangguh dalam setiap peperangan. Ya, aku mungkin cukup tahan dan tangguh untuk menang dari beberapa peperangan di dalam hidup. Tapi ketika kembali dari medan berat itu, aku akan diam dan bertanya di dalam hati – siapa yang akan membasuh luka-luka ini?
Aku pernah tak sengaja membaca sebuah kalimat sederhana – “hidup memang sulit, tapi selama ada Ibu semua akan terasa baik-baik saja". Aku bahkan melihat trend di sosial media bagaimana para orang dewasa yang masih dirawat oleh ibu mereka. Jujur saja, aku merasa seperti menelan ribuan kekalahan. "Sial..." gerutu ku dalam hati dengan senyum masam. Aku tidak marah, aku hanya menyadari satu hal pahit yang selama ini sulit untuk diakui.
10 tahun lalu, sosok ibu itu pulang kepangkuan sang pemilik kehidupan. Dalam sekejap mata, dunia terasa runtuh tapi aku harus tetap melanjutkan hidup. Dari seorang gadis ceroboh, manja, dan kekanakan, kemudian bertransformasi menjadi wanita yang sanggup melakukan apapun sendiri. Berbekal didikan singkat darinya, aku berjalan menghadapi tahun demi tahun dengan tegap berdiri.
Aku pikir selama ini aku telah mengikhlaskan kepergian itu. Tapi nyatanya masih ada bagian yang belum selesai. Aku tidak sedang mempertanyakan takdir yang Tuhan gariskan. Sebagai manusia aku tidak mungkin meragukan setiap keputusan-Nya. Aku selalu percaya ada makna dibalik semua garis takdir yang sudah dituliskan.
Setelah sekian lama bertahan, aku sampai pada satu titik akhirnya aku menurunkan rasa gengsi itu untuk berani mengakui bahwa aku kehilangan sosok yang ku panggil "Ibu". Aku merindukannya lebih dari yang bisa aku tuliskan disini.
Butuh waktu lama untuk bisa jujur pada diri sendiri bahwa tak peduli seberapa tangguh atau seberapa dewasa usia ini, nyatanya aku selalu membutuhkan sosoknya.
Tahun demi tahun terlewati dengan semua pembelajarannya. Aku memang masih belajar dalam hal ikhlas, tapi paling tidak aku memaknai satu hal penting dari kehilangan ini. Di balik rasa sunyi kehilangan satu peran penting di dalam hidup, aku mengerti mengapa Tuhan akhirnya meminta ibu pulang lebih dulu. Tuhan tahu jiwanya begitu murni, hingga Tuhan sendiri pun tidak sanggup menahannya lebih lama untuk menanggung segala kesulitan, kesakitan, dan kerumitan dunia ini sendiri.
Dari semua hal terbaik di dunia yang bisa Tuhan berikan padanya, ini menjadi garis takdir yang paling damai untuknya. Dan seperti sebuah cerita, diakhir selalu akan ada pesan dan hal-hal yang bisa dipelajari. Melalui kehilangan ini, aku telah belajar memandangan kehilangan dari sudut pandang yang lebih tenang.
Terima
kasih telah menjadi ibu yang terbaik dengan versimu sendiri. Pulanglah dengan
ringan dan bahagia menuju tujuan terakhirmu.

Komentar
Posting Komentar